MIU Login

Hasil Seleksi Pendaftaran Judul Periode Oktober 2025 Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 Prodi Hukum Tata Negara (Siyasah)

NONIMNAMAjudulISUnormatif/empirisTim 1Tim 2Tim 3Tim 4Tim 5KET
1220203110064Nur Amalia Sofiul HudaRECHTSVACUUM SENGKETA TATA USAHA TNI DENGAN ANALISIS HISTORIS-YURIDIS ATAS KETIADAAN PERADILAN TATA USAHA MILITER DAN DAMPAKNYA PADA AKSES HUKUMBagaimana ketiadaan peradilan tata usaha militer menimbulkan kekosongan hukum (rechtsvacuum) dalam penyelesaian sengketa tata usaha yang melibatkan prajurit TNI, dan apa implikasinya terhadap akses hukum serta prinsip negara hukum di Indonesia?Normatifterdapat penelitian sejenis https://eprints.undip.ac.id/57502/oke, sepertinya kekosongan hukum yg pd penelitian yg di mention bu Sheila tdk melibatkan mekanisme praperadilan, sementara kebaharuan yg diusulkan olh ybs mengenai mekanisme praperadilandtolak, terdapat kemiripan https://www.academia.edu/31843263/Rechtsvacuum_dalam_Penyelesaian_Sengketa_Tata_Usaha_Militer_di_IndonesiaDitolak, semua penyelesaian sengketa TNI mengacu pada UU No. 31 Tahun 1997 sbg pengadilan khususDitolakLengkap
2220203110002Nuriska Rozzaqtina Putri NawiURGENSI PENGUATAN REGULASI PENANGGULANGAN LIMBAH FAST FASHION DI INDONESIA BERDASARKAN ECOLOGICAL JUSTICE PRINCIPLE DAN PERSPEKTIF FIQH AL-BI’AHBelum optimalnya regulasi serta penegakkan hukum lingkungan terkait dengan penanggulangan limbah fast fashion di Indonesia.Normatifdi luar perspektif fiqh bi’ah terdapat penelitian sejenis https://journal.umy.ac.id/index.php/ijclc/article/view/22830tolakdtolakIsu hukumnya tidak jelas. DitolakDitolakLengkap
3220203110094Mukti Ferdiansyah FaqihMekanisme Pengaturan Pemilu Serentak Di Indonesia Dan Brasil Dalam Perspektif Siyasah Dusturiyahberfokus pada pengaturan konstitusional pemilu serentak di Indonesia setelah Putusan MK No. 14/PUU-XI/2013 yang mewajibkan pemilu legislatif dan presiden dilaksanakan dalam satu waktu. Pokok persoalannya terletak pada bagaimana dasar hukum pemilu serentak dirumuskan, apakah mampu mendukung penguatan sistem presidensial dan penyederhanaan sistem kepartaian sebagaimana tujuan pembentuk undang-undang, serta bagaimana perbandingannya dengan pengaturan dalam Konstitusi Brasil 1988 yang sejak awal menetapkan pemilu serentak. Selain itu, isu hukum juga terkait dengan kesesuaian pengaturan tersebut dengan prinsip-prinsip siyasah dusturiyah, khususnya mengenai keadilan, musyawarah, dan kemaslahatan dalam kehidupan ketatanegaraan.Normatifdiluar perspektif siyasah dusturiyah terdapat penelitian sejenis https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/8451/tolakdtolakIsu pemilu serentak sudah kadaluarsa, sekarang yg buming mengenai pemisahan pemilu lokal dan nasional pasca putusan MK. DitolakDitolakLengkap
4220203110094Mukti Ferdiansyah FaqihURGENSI FRAKSI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DALAM PERSPEKTIF UTILITAS HUKUM DAN MASLAHAH MURSALAHberfokus urgensi fraksi DPR RI sebagai bagian dari sistem ketatanegaraan yang diatur dalam UU MD3. Fraksi dipandang penting untuk menjaga konsistensi politik dan efektivitas legislasi, tetapi juga dikritik karena membatasi independensi anggota DPR serta memperkuat dominasi partai. Dari perspektif utilitas hukum dan maslahah mursalah, persoalannya adalah apakah fraksi benar-benar menghadirkan kemanfaatan dan kemaslahatan publik atau justru menimbulkan mudarat dalam praktiknya.Normatiftidak ada plagiasiokdtolak, terdapat kemiripan https://jseh.unram.ac.id/index.php/jseh/article/view/41Oke. Perlu diklinikKlinik – konsultasi ke Pak Abdul KadirLengkap
5220203110010ZHAFIRA NAHWA FIRDAUSIPENGGUNAAN PATWAL UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAH MENURUT ASY SYATIBI (Tinjauan Pasal 134 huruf G UU. No. 22 Tahun 2009)Pertentangan antara praktik penggunaan patwal untuk kepentingan pribadi dengan prinsip hukum positif dan prinsip maslahah dalam hukum IslamNormatiftidak ada plagiasiokditerimaokDiterimaLengkap
6220203110089Ahmad Febri RiyandiIMPLIKASI FENOMENA NO VIRAL NO JUSTICE DI ERA DIGITAL : ANALISIS HUKUM TATA NEGARA DAN PERSPEKTIF SIYASAH SYAR’IYYAH TERHADAP ASPIRASI PUBLIK DAN RESPON PEMERINTAHisu hukum yang di ambil terkait fenomena no viral no justice dalam pandangan hukum tata negara dan siyasah syar’iyyahNormatifterdapat penelitian sejenis https://www.jurnal.ranahresearch.com/index.php/R2J/article/view/1326tolakdtolakTidak ada persoalan hukum. DitolakDitolakLengkap
7220203110089Ahmad Febri RiyandiDISHARMONI REGULASI DAN PERLINDUNGAN HAK BERDEMOKRASI (Kajian terhadap Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 dan Peraturan Kepala Kepolisian Nomor 16 Tahun 2006 serta Respons Aparat terhadap Aksi Masa Demonstrasi 2025 dalam Perspektif Siyasah Syar’iyyah)isu hukum yang diambil terkait disharmoni antara UU No. 9 Tahun 1998 dan Perkap No.16 tahun 2006Normatiftidak ada plagiasiterima, isu hukum difokuskan pada satu aspek sajaokOke. Perlu diklinikDiterimaLengkap
8220203110010ZHAFIRA NAHWA FIRDAUSIPENDEKATAN MAQASID AL-SYARI’AH TERHADAP PENYALAHGUNAAN PATWAL DI INDONESIA : REKONSTRUKSI AKUNTABILITAS DAN ETIKA DALAM PENEGAKAN HUKUMpenyalahgunaan kewenangan dalam praktik patwal yang menimbulkan mudharat sosial dan bertentangan dengan prinsip maqasid al-syari’ah dalam menjaga keadilan, amanah, dan kemaslahatan masyarakat.Normatifjudul sama dengan no.5tolakdtolakDitolakDitolakLengkap
9220203110018Eprilia Wachidatul MuzafikiTinjauan Fiqh Siyasah Terhadap Pelakssanaan Perizinan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3) Oleh Industri Antara Kepatuhan dan Pengabaian Tata KelolaBagaimana pelaksanaan perizinan pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3) oleh industri mencerminkan atau justru mengabaikan prinsip-prinsip fiqh siyasah, khususnya terkait tanggung jawab pemerintah dalam menjamin kepatuhan hukum, keadilan tata kelola, dan perlindungan terhadap kemaslahatan lingkungan hidup?Normatiftelah ada penelitian sebelumnya http://ejournal.upnjatim.ac.id/index.php/jdg/article/view/1424tolakdtolakDitolakDitolakLengkap
10220203110018Eprilia Wachidatul MuzafikiPertanggungjawaban Pemerintah Daerah Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Aset Desa di Kota Blitar Tinjauan Hukum Agraria Perspektif Fiqh Siyasah MaliyahBagaimana bentuk dan batas pertanggungjawaban pemerintah daerah dalam penyelesaian sengketa tanah aset desa di Kota Blitar berdasarkan hukum agraria, serta sejauh mana prinsip fiqh siyasah maliyah dapat dijadikan dasar dalam mewujudkan keadilan dan kemaslahatan pengelolaan harta publik tersebut.Normatiftidak ada plagiasi (seharusnya penelitian dilakukan secara empiris)ok, jadikan empirisredaksi judul tidak tepat, mengaburkan algoritma pencarian kemiripan riset serupa, sejatinya riset ini discholar sudah banyak hnya beda lokus, salah satunya dalam link brikut https://jurnal.hukumonline.com/a/5cb4956701fb73000e1c717f/kewenangan-pemerintah-daerah-dalam-penyelesaian-sengketa-tanah/ btw dtolak sjaEmpiris. Perlu Di klinikDiterimaLengkap
11220203110015Inayatur RohmaniyaPEMBATASAN PENGGUNAAN HAK INTERPELASI BAGI ANGGOTA DPRD TERHADAP KEPALA DAERAH BERDASARKAN KETENTUAN UU NO. 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAHHak interpelasi DPRD merupakan instrumen penting dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah daerah. Namun, pelaksanaannya sering menimbulkan masalah, seperti ketidakjelasan batas kebijakan yang dapat diinterpelasi, perbedaan tafsir antar pihak, serta potensi penyalahgunaan untuk kepentingan politik. Akibatnya, fungsi pengawasan DPRD belum berjalan optimal. Dalam perspektif siyāsah dusturiyyah, pengawasan terhadap pemerintah merupakan prinsip penting untuk menjaga keadilan dan kemaslahatan rakyat. Karena itu, kajian terhadap hak interpelasi perlu dilakukan untuk melihat kesesuaiannya dengan prinsip pengawasan dalam hukum tata negara Islam serta memperkuat sistem pemerintahan yang transparan dan akuntabel.Normatifterdapat penelitian sejenis https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/8411/tolakdtolakDitolakDitolakLengkap
12220203110015Inayatur RohmaniyaPENGATURAN GREEN PROCUREMENT DALAM UNDANG-UNDANG PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH DAN IMPLIKASINYA BAGI CSR (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY) PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAHMeskipun green procurement dan Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki tujuan yang sama dalam mewujudkan keberlanjutan lingkungan dan sosial, keduanya belum terintegrasi secara efektif dalam sistem pengadaan barang/jasa pemerintah. Ketiadaan pedoman teknis yang jelas serta lemahnya pengawasan terhadap penerapan aspek lingkungan menyebabkan pelaksanaan kedua konsep ini sering berjalan terpisah dan kurang optimal.Dari perspektif maslahah mursalah, kondisi tersebut menunjukkan perlunya sinkronisasi dan penguatan regulasi agar kebijakan pengadaan pemerintah benar-benar berorientasi pada kemaslahatan umum. Integrasi green procurement dan CSR menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan pembangunan, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial sesuai prinsip keadilan dan kemanfaatan dalam hukum Islam.Normatiftidak ada plagiasiokdtolak, terdapat kesamaan objek dgn link beriktut https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/almikraj/article/view/7606Perlu di Klinik khusus oleh dosen yg paham hukum Lingkungan dan mengkajinya dalam perspektif hukum islamDitolakLengkap
13220203110041Berliana Octaviani RistitaKEPATUHAN HUKUM LEMBAGA LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF DALAM MENETAPKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MENJADI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (Studi Pasal 10 Ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Mahkamah Konstitusi)ketidakefektifan implementasi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) oleh lembaga negaraNormatiftelah diteliti olehsdh banyak penelitian serupajudul ini bsa dterima klo lebh spesifik pada putusan MK no brpa… yg tidak ditaati baik olh eksekutif & legisltaif, hasil penelusuran sy yg tdk dtaati olh legisltaif sdh ada yg meneliti spt link https://journal.unram.ac.id/index.php/diskresi/en/article/view/7430, tp klo yg diteliti keduanya eksekutif & legislatif ni baru luar biasa, saran sya bagi para penilai jgn mudah molak tanpa disertai bukti  link kemiripan, btw sya menirima krn msh bsa diselamatkanDifokuskan aja pada Constitusional Disobidence dan apa sanksinya, itu lebih menarikKlinik – konsultasi ke Pak Mustafa LutfiLengkap
1220203110041Berliana Octaviani RistitaPERDAGANGAN KARBON LINTAS NEGARA DALAM IMPLEMENTASI PARIS AGREEMENT TINJAUAN KONSTITUSIONAL DI INDONESIAKeselarasan Konstitusional Implementasi Paris Agreement dengan UUD 1945Normatiftelah ada penelitian sebelumnya https://lawpass.org/index.php/ojs/article/view/21tolakdtolakDitolakditolakLengkap
15220203110060RAUDHATUS SHOLEHAHUPAYA PENCEGAHAN TINDAK PIDANA KORUPSI PENGELOLAAN DANA DESA MELALUI DIGITALISASI E-PKH PERSPEKTIF SIYASAH MALIYAH (Studi Di Desa Bandaran Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan)Tingginya kasus korupsi dana desa dan penyalahgunaan bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Untuk mengatasi hal ini, pemerintah menerapkan sistem digitalisasi E-PKH guna meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi pengelolaan dana publik. Namun, penerapannya di tingkat desa, khususnya di Desa Bandaran Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan, masih menghadapi kendala seperti rendahnya literasi digital, lemahnya pengawasan, serta minimnya kesadaran hukum dan etika aparat desa. Pemerintah kemudian mendorong digitalisasi melalui sistem E-PKH untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa. Namun, penerapannya di tingkat desa masih menghadapi kendala seperti literasi digital yang rendah dan lemahnya pengawasan. Oleh karena itu, diperlukan kajian tentang efektivitas digitalisasi E-PKH sebagai upaya pencegahan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana desa melalui perspektif Siyasah Maliyah yang menekankan prinsip amanah, keadilan, dan kemaslahatan dalam tata kelola keuangan publik.Normatifapabila normatif ditolak , jika penelitian dilakukan secara metode yuridis empiris diterimaokokHarus EmpirisDiterimaLengkap
16220203110060RAUDHATUS SHOLEHAHHARMONISASI KEWENANGAN TENTARA NASIONAL INDONESIA DAN PEMERINTAH DAERAH PADA PROGRAM TENTARA MANUNGGAL MEMBANGUN DESA PASCA REVISI UNDANG UNDANG TNI 2025 PERSPEKTIF SIYASAH DUTURIYAHPerubahan peran dan kewenangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah revisi Undang-Undang TNI Tahun 2025, di mana TNI tidak hanya berfungsi dalam bidang pertahanan, tetapi juga berperan aktif dalam kegiatan pembangunan melalui Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD). Kondisi ini menimbulkan potensi tumpang tindih kewenangan antara TNI dan Pemerintah Daerah, terutama dalam pelaksanaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban program pembangunan desa. Situasi tersebut perlu dianalisis untuk melihat bagaimana harmonisasi kewenangan kedua lembaga negara dapat diwujudkan tanpa melanggar prinsip pembagian kekuasaan serta tetap berlandaskan pada prinsip keadilan dan kemaslahatan menurut perspektif Siyasah Dusturiyah.Normatiftidak ada plagiasiokokJudul perlu dipertajamDiterimaLengkap
17220203110059NASYWA NUR AZIZAHURGENSI PENGUATAN SANKSI TAMBAHAN TERHADAP PELAKU FEMISIDA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA (Studi UU No. 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)KUHP 2023 belum mengatur femisida sebagai tindak pidana yang berdiri sendiri, sehingga pelaku masih dijerat dengan pasal pembunuhan umum (misalnya Pasal 454–459 KUHP baru), tanpa mempertimbangkan motif gender atau relasi kuasa. Apakah pengaturan sanksi tambahan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah memadai untuk memberikan efek jera dan keadilan substantif terhadap pelaku femisida serta mengakomodasi dimensi keadilan genderNormatiftelah ada penelitian sebelumnya http://etheses.uin-malang.ac.id/76630/tolakdtolakIni hukum jinayah. DitolakDitolakLengkap
18220203110059NASYWA NUR AZIZAHDISHARMONISASI PENDEKATAN FISKAL DAN KESEHATAN DALAM KEBIJAKAN CUKAI ROKOK BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2024 TENTANG KESEHATANKebijakan cukai rokok di Indonesia secara fiskal diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara, sedangkan secara kesehatan, kebijakan tersebut seharusnya berfungsi membatasi konsumsi produk tembakau demi menekan prevalensi penyakit akibat rokok. Isu hukum muncul ketika tarif cukai lebih diprioritaskan untuk optimalisasi pendapatan negara, bukan pengendalian konsumsi rokok sebagaimana mandat Pasal 67 dan 70 PP No. 28 Tahun 2024 tentang promosi kesehatan dan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular. PP 28/2024 juga menugaskan pemerintah untuk mengintegrasikan kebijakan pengendalian tembakau dengan kebijakan fiskal dan industri (Pasal 72). Namun, dalam realitas, belum ada mekanisme hukum yang memastikan koordinasi efektif antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Kesehatan, sehingga regulasi berjalan sektoral dan berpotensi bertentangan dalam implementasi. Oleh karena itu, apakah kebijakan fiskal melalui pengaturan cukai rokok telah selaras dengan tujuan perlindungan kesehatan masyarakat sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, atau justru terjadi disharmonisasi norma dan tujuan antar kebijakan publik antara sektor fiskal dan sektor kesehatan?Normatiftidak ada plagiasiokokOke. Ditambahin perpsektif maslahahDiterimaLengkap
19220203110079FAWAZ AZMIKekuatan Mengikat Putusan Permanent Court of Arbitration (PCA) 2016 terhadap Klaim Nine-Dash Line Tiongkok di Laut China Selatan dalam Perspektif Hukum Internasional dan Siyasah DusturiyahPutusan PCA 2016 menolak klaim historic rights, tapi Tiongkok tetap menggunakannya. Salah satu poin penting yang bisa dikaji salah satunya adalah apakah “historic rights” masih punya dasar hukum internasional setelah UNCLOS 1982 berlaku? Ini penting karena ada konflik antara hukum kebiasaan internasional dengan hukum perjanjian.Normatiftelah ada penelitian sebelumnya https://pdfs.semanticscholar.org/ae62/1509cb08ed06cd793419af8a919262d809a3.pdftolakdtolakDitolakDitolakLengkap
20220203110079FAWAZ AZMIHAK WARGA NEGARA ATAS LINGKUNGAN HIDUP YANG BAIK: STUDI PARIS AGREEMENT DALAM HUKUM TATA NEGARA INDONESIA DAN SIYASAH SYAR’IYYAHBerangkat dari kenyataan bahwa lingkungan hidup di Indonesia semakin terancam oleh krisis iklim. Padahal, Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Selain itu, Indonesia juga telah meratifikasi Paris Agreement, yang merupakan perjanjian internasional tentang perubahan iklim. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana hak konstitusional warga negara atas lingkungan hidup dapat dipahami secara lebih komprehensif jika dipadukan dengan prinsip-prinsip Paris Agreement serta ajaran Islam. Metode yang saya gunakan adalah yuridis normatif, dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan perbandingan, dan juga pendekatan konseptual dari fikih klasik. Isu hukum yang saya angkat relatif baru, yaitu: apakah hak atas lingkungan hidup bisa dipahami sebagai hak ekologis baru dalam Islam, bagaimana Paris Agreement bisa dipandang sebagai akad internasional ekologis dalam perspektif siyasah syar’iyyah, serta bagaimana keadilan antar-generasi dalam hukum tata negara dapat dipadukan dengan nilai-nilai maqāṣid al-sharī‘ah.Normatiftidak ada plagiasiokokOke. studinya bukan pada Paris Agrementnya, tapi pada UU Hasil Ratifikasinya yaitu UU No. 16 tahun 2016DiterimaLengkap
21220203110008Tuhfatul MardiyyahURGENSI PEMBENTUKAN BADAN OTORITA PENGELOLA KAWASAN FOOD ESTATE SUMATERA UTARA BERDASARKAN PERPRES NOMOR 131 TAHUN 2024 PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAHIsu hukum dalam penelitian ini adalah tentang kejelasan dasar hukum dan kewenangan pembentukan Badan Otorita Pengelola Kawasan Food Estate Sumatera Utara melalui Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2024. Pembentukan lembaga ini menimbulkan pertanyaan apakah peraturan presiden sudah cukup kuat untuk membentuk lembaga baru dan bagaimana kedudukannya dalam sistem pemerintahan. Selain itu, ada juga masalah tumpang tindih tugas antarinstansi, konflik lahan dengan masyarakat adat, dan kurangnya kejelasan dalam pengawasan serta tanggung jawab lembaga. Karena itu, isu hukum utamanya adalah apakah pembentukan badan otorita ini benar-benar bisa memperbaiki pengelolaan pangan dan menyelesaikan masalah di lapangan, atau justru menambah persoalan baru dalam tata kelola pemerintahan. Dari perspektif siyasah dusturiyah, pembentukan badan ini harus dievaluasi berdasarkan prinsip syariah tentang legitimasi penguasa dalam menetapkan kebijakan, memastikan kebijakan tersebut membawa maslahah (kesejahteraan umum) dan tidak menimbulkan mafsadah (kerugian) bagi masyarakat. Oleh karena itu, isu hukum utamanya adalah apakah pembentukan badan otorita ini benar-benar sesuai prinsip siyasah dusturiyah dalam memperbaiki pengelolaan pangan dan menyelesaikan masalah di lapangan, atau justru menimbulkan persoalan baru dalam tata kelola pemerintahan.Normatiftidak ada plagiasiokokOK, isu hukum perlu dipertajamDiterimaLengkap
22220203110021Lado Fadhillah Fiqh SyahputraANALISIS NORMATIF TERHADAP MODEL MIXED-MEMBER PROPORSIONAL (MMP) SEBAGAI ALTERNATIF SISTEM PEMILU INDONESIA DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAHSebagai sistem alternatif dari sistem pemilu proporsional terbuka dan tertupNormatifdiuar maslahah mursalah telah ada penelitian sejenis https://www.researchgate.net/profile/Abd-Hannan-2/publication/375906209_Antara_Terbuka_Tertutup_dan_Campuran_Mencari_Format_Sistem_Proporsional_dalam_Pemilihan_Umum_Legislatif_di_Indonesia/links/679edff8207c0c20fa71d207/Antara-Terbuka-Tertutup-dan-Campuran-Mencari-Format-Sistem-Proporsional-dalam-Pemilihan-Umum-Legislatif-di-Indonesia.pdftolakdtolakDitolakDitolakLengkap
23220203210061LADO FADHILLAH FIQH SYAHPUTRATINJAUAN SIYASAH DUSTURIYAH TERHADAP KEBIJAKAN PERPANJANGAN MASA DINAS PRAJURIT TNI DALAM UU NO. 3 TAHUN 2025 ATAS PERUBAHAN UU NO. 34 TAHUN 2004Kebijakan perpanjangan masa jabatan TNI mengakibatkan timbulnya isu permasalahan menumpuk nya jabatan struktural yang dapat mengganggu jalannya struktur organisasi TNI yang jika sudah tidak mencukupi akan dialokasikan kepada kementerian yang membutuhkanNormatiftidak ada plagiasiokokIsu Hukum perlu diperjelasDiterimaLengkap
24220203110040Moh. Bahrul LahutANALISIS YURIDIS PASAL 9G DAN PASAL 87 AYAT (5) UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2025 TENTANG BUMN TERHADAP PRINSIP AKUNTABILITAS NEGARA DALAM PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAHApakah penghapusan status direksi dan komisaris BUMN sebagai penyelenggara negara sebagaimana diatur dalam Pasal 9G dan Pasal 87 ayat (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN bertentangan dengan prinsip akuntabilitas negara, baik menurut hukum tata negara Indonesia maupun dalam perspektif Siyasah DusturiyahNormatiftidak ada plagiasiokokMenarik jika bener ada pertentangan suati norma dalam UU dengan Prinsip atau Asas-Asas HukumDiterimaLengkap
25220203110040Moh. Bahrul LahutLEGITIMASI KEWENANGAN EVALUASI DPR TERHADAP PEJABAT NEGARA DALAM PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAH: STUDI KASUS PASAL 228A PERATURAN DPR NOMOR 1 TAHUN 2025Apakah kewenangan evaluasi DPR terhadap pejabat negara sebagaimana diatur dalam Pasal 228A Peraturan DPR Nomor 1 Tahun 2025 memiliki landasan konstitusional dan legitimasi normatif yang sah, baik menurut hukum tata negara positif Indonesia maupun dalam perspektif Siyasah Dusturiyah (politik ketatanegaraan Islam)Normatiftidak ada plagiasiokokPerlu penajamanDiterimaLengkap
26220203110003Ike Dwi RahmaniaPerlindungan Hukum Warga Sipil Terhadap Kelalaian Aparat Kepolisian Dalam Menjalankan Fungsi Pengamanan Aksi Demonstrasi Perspektif Siyasah Dusturiyyah1.Bagaimana aspek pertanggung jawaban hukum aparat kepolisian yang dapat merugikan fisik maupun non fisik, dan apakah hal tersebut termasuk pada pelanggaran terhadap hak rasa aman dan perlindungan kekerasan negara 2. mengkaji terhadap tanggung jawab negara baik secara pidana, perdata ataupun administrasiNormatiftidak ada plagiasiokokOkeDiterimaLengkap
27220203110004Muhamad Ubaidillah FaqihPERAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA DAN DINAS SOSIAL TERHADAP PRAKTIK KOHABITASI DI KOTA MALANG PERSPEKTIF GOOD GOVERNANCE DAN SIYASAH IDARIYAHKolaborasi instansi pemerintahan daerah (satpol pp dan dinas sosial) dalam melakukan upaya preventif hukum praktik kohabitasi di kota malang perspektif good governance dan siyasah idariyahEmpiristidak ada plagiasiokokIsu hukum perlu diperjelasDiterimaLengkap
28220203110004Muhamad ubaidillah faqihTINJAUAN HUKUM TERHADAP KEWENANGAN DISKRESIONER SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KOTA MALANG DALAM PENERTIBAN MASYARAKATBagaimana Kewenangan dikresioner satpol pp dalam menertibkan masyarakat di kota malangEmpiristidak ada plagiasiokokIsu Hukum perlu diperjelassudah diatasnyaLengkap
29220203110080Althof Hussein QadhafiIMPILIKASI REKONFIGURASI DEWAN KETAHANAN NASIONAL MENJADI DEWAN PERTAHANAN NASIONAL BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 202 TAHUN 2024 PRESPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAHRekonfigurasi Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) menjadi Dewan Pertahanan Nasional (DPN) melalui Perpres No. 202/2024 menimbulkan isu hukum serius dalam perspektif Siyasah Dusturiyah. Fokus utamanya adalah dominasi eksekutif dan militer yang berpotensi melanggar prinsip checks and balances dan mengarah pada pemusatan kekuasaan (istiklal al-sulta). Selain itu, dasar hukum DPN yang hanya bersumber dari Perpres serta minimnya transparansi dan akuntabilitas publik (syura) merusak legitimasi dan pengawasan, merugikan maslahah ammah.Normatiftidak ada plagiasiokokIsu Hukum perlu diperjelasDiterimaLengkap
30220203110046ERDA LAILATUS SYIFAIMPLIKASI YURIDIS PUTUSAN MK NOMOR 96/PUU-XII/2024 DALAM UPAYA PERLINDUNGAN KERUGIAN PEKERJA PERSPEKTIF MAQASHID SYARIAHPutusan MK NO 96/PUU-XII/2024 tentang UU TAPERA Yg inkonstitusional bersyaratNormatiftidak ada plagiasiokokIsu Hukum perlu diperjelasDiterimaLengkap
31220203110093Achdam Khoeron Topan HaryantoIMPLEMENTASI PENGALIHAN KEWENANGAN RUPBASAN KEPADA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 155 TAHUN 2024 TERHADAP TATA KELOLA BENDA SITAAN (Studi di Rupbasan Kelas II Pasuruan)Isu hukum dalam penelitian ini terletak pada pelaksanaan pengalihan kewenangan Rupbasan dari Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan kepada Kejaksaan Republik Indonesia berdasarkan Pasal 76 Peraturan Presiden Nomor 155 Tahun 2024. Pengalihan kewenangan ini menimbulkan persoalan hukum mengenai bagaimana pelaksanaannya dapat memengaruhi sistem tata kelola benda sitaan dan barang rampasan negara mengenai kepastian hukum, efektivitas, transparansi, maupun akuntabilitasnya.Empiristidak ada plagiasiokokTempat penelitian, harus memiliki rupbasan yg tinggi di IndonesiaDiterimaLengkap
32220203110035UbaidillahTUMPANG TINDIH KEWENANGAN KEMENTERIAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KEUANGAN BUMDES: ANALISIS YURIDIS DENGAN PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAHIsu hukum Tumpang Tindih Kewenangan Kementerian dalam Pembinaan dan Pengawasan Keuangan BUMDes: Analisis Yuridis dengan Perspektif Maslahah Mursalah berakar pada ketidakharmonisan regulasi antara beberapa kementerian yang memiliki kewenangan terhadap pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Secara normatif, BUMDes diatur melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa dan Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pendaftaran, Pengelolaan, dan Pembubaran BUMDes. Namun, dalam pelaksanaannya, kewenangan pembinaan dan pengawasan keuangan BUMDes tidak hanya berada pada Kementerian Desa PDTT, tetapi juga melibatkan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kondisi ini menimbulkan tumpang tindih kewenangan antar kementerian yang berdampak pada ketidakjelasan otoritas dalam pelaksanaan fungsi pembinaan, pengawasan, serta audit keuangan desa.Normatiftidak ada plagiasiokokTumpang tindih itu perlu diperjelas. sekilas itu beda level pengaturan, ingat asas Lex Superiori Derogat legi InferioriDiterimaLengkap
33220203110071Ghinayatus SalwaANALISIS YURIDIS MEKANISME RESTORATIF HAK PEMULIHAN KORBAN DEEPFAKE DALAM PERSPEKTIF UU PERLINDUNGAN DATA PRIBADI DAN SIYASAH DUSTURIYAHKekosongan/ketidakjelasan mekanisme hukum yang bersifat restoratif untuk memulihkan hak-hak korban deepfake di Indonesia, khususnya terkait perlindungan data pribadi dan belum optimalnya implementasi prinsip keadilan dalam perspektif siyasah dusturiyah.Normatifdiluar siyasah dusturiyah telah ada penelitian sejenis http://proceeding.unmuhjember.ac.id/index.php/nms/article/view/719/683tolakdtolakDitolakDitolakLengkap
34220203110037Zamzam NurjamanMekanisme Pembatalan Undang – undang di Indonesia dan Swiss Perspektif Mabda al-SyuroIsu hukum utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah ketidakefektifan mekanisme pembatalan undang-undang di Indonesia dalam menjamin kualitas legislasi dan partisipasi demokratis. Selama ini, mekanisme judicial review oleh Mahkamah Konstitusi merupakan satu-satunya instrumen formal untuk membatalkan undang-undang yang bertentangan dengan UUD 1945. Namun, tingginya angka permohonan pengujian undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi sejak tahun 2003 hingga saat ini mengindikasikan adanya problematika sistemik dalam proses pembentukan undang-undang di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa mekanisme kontrol kualitas legislasi yang ada saat ini belum mampu mencegah lahirnya undang-undang yang cacat hukum atau inkonstitusional.Normatiftidak ada plagiasiokokPerlu diperjelas, kenapa harus SWISS? kenapa bukan negara ASEAN misalnyaDiterimaLengkap
35210203110034ALI ROYHAN FIRDAUSINKONSISTENSI NORMA HUKUM TERKAIT RANGKAP JABATAN MENTERI BERDASARKAN PASAL 33 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 2025 TERHADAP PASAL 23 UNDANG-UNDANG NOMOR 39 TAHUN 2008 PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAHNegara Indonesia berdiri di atas prinsip negara hukum, yang menuntut setiap peraturan perundang-undangan selaras dan tidak bertentangan dengan norma yang lebih tinggi. Namun, muncul inkonsistensi antara Pasal 33 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025 yang memperbolehkan Menteri merangkap jabatan sebagai Kepala Badan Pelaksana Danantara, dengan Pasal 23 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 yang justru melarang menteri merangkap jabatan apapun, termasuk pimpinan lembaga yang dibiayai APBN. Ketidakharmonisan ini berpotensi menyalahi asas lex superior derogat legi inferiori dan melemahkan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.Normatiftidak ada plagiasiokokJudul perlu diperbaikiDiterimaLengkap
36220203110003Ike Dwi RahmaniaEfektivitas Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 3 Tahun 2021 Terhadap Fenomena Pramusaji Angkringan Berpakaian Minim Perspektif Siyasah Dusturiyah (Studi di Polisi Pamong Praja Kabupaten Kediri)Fenomena pramusaji angkringan berpakaian minim yang marak di Kabupaten Kediri belakangan ini menimbulkan perdebatan sosial dan moral di tengah masyarakat. Di satu sisi, hal tersebut dianggap sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan strategi menarik pelanggan dalam usaha kuliner jalanan. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran terhadap degradasi moral, pelanggaran nilai kesopanan, serta potensi terganggunya ketertiban umum dan ketenangan masyarakat. Untuk menjawab tantangan sosial ini, Pemerintah Kabupaten Kediri menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 3 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat, yang di dalamnya mengatur perilaku masyarakat agar sesuai dengan norma hukum dan kesusilaan. Penelitian ini berfokus pada efektivitas implementasi Perda tersebut, khususnya dalam menangani fenomena pramusaji berpakaian minim di angkringan yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap norma kesopanan dan ketertiban umum. Efektivitas Perda tidak hanya dilihat dari aspek penegakan hukum, tetapi juga dari segi partisipasi masyarakat, kesadaran hukum pelaku usaha, serta peran aparat Satpol PP sebagai penegak perda.Empiristidak ada plagiasiisu hukum kurang kuat, bila melakukan pendekatan penelitian yg tdk tepat justru akan menjadi penelitian sosial.bisa diperbaiki judulnya biar lebih fokusOKEDiterimaLengkap
37220203110023Aldaffa Adjie CahyoniEFEKTIVITAS ANTARA BADAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN DAN INVESTIGASI KHUSUS (BAPPISUS) DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN (BPKP) MENUJU GOOD GOVERNANCEKonfil of norm, yang dimana adanya tumpang tindih antar lembaga BPKP dengan lembaga BAPPISUSNormatiftidak ada plagiasiokokRedaksi judul diperbaiki, efektifitas itu untuk penelitian empirisDiterimaLengkap
38220203110023Aldaffa Adjie CahyonoKontroversi Penerapan Pasal 28 Ayat (2) dan (3) UU No. 1/2024: Dilema Antara Penegakan Hukum dan Jaminan Kebebasan Berpendapat dalam Kasus Poster Demonstrasi 2025Kekaburan hukum yang berkaitan dengan definisi yang tidak jelas dan multitafsir pada pasal-pasal yang mengatur ujaran kebencian, hoaks, dan penghasutan sehingga menimbulkan potensi penyalahgunaan hukum.Normatiftidak ada plagiasiokokJudul perlu dipertegasDiterimaLengkap
39220203110080Althof hussein qadhafiImplikasi Yuridis Pembentukan Badan Pengendalian Pembangaunan dan Investigasi Khusu terhadap Penyelenggaraan Lembaga KPK dan Kejaksaan Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 159 Tahun 2024 Perspektif Siyasah DusturiyahIsu hukum utama dari pembentukan Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus melalui Perpres Nomor 159 Tahun 2024 adalah potensi tumpang tindih kewenangan investigasi BPPIK dengan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kejaksaan. Persoalan lain adalah pergeseran prinsip checks and balances, karena BPPIK di bawah Presiden berpotensi memperluas kekuasaan eksekutif di ranah investigatif, yang dikhawatirkan mengganggu independensi lembaga penegak hukum serta menimbulkan duplikasi fungsi.Normatiftidak ada plagiasiokokOKDiterimaLengkap
40220203110052Azizatus Sa’adahPERTANGGUNG JAWABAN HUKUM PEKERJA OUTSOURCING BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 35 TAHUN 2021 PERSEPEKTIF MASLAHAH MURSALAHmengemukakan isu hukum krusial terkait kesenjangan antara jaminan regulasi dan realitas praktik di lapangan. Meskipun Pasal 19 PP 35/2021 secara tegas menyatakan perusahaan alih daya bertanggung jawab penuh atas hak-hak pekerja, implementasinya kerap kali tidak efektif, sehingga pekerja sering mengalami ketidakpastian status, upah yang minim, dan jaminan sosial yang tidak memadai. Dari sudut pandang maslahah mursalah, isu hukum ini mengundang pertanyaan mendalam tentang keadilan dan kemaslahatan yang sesungguhnya. Apakah sistem alih daya, yang cenderung mengutamakan efisiensi dan kepentingan ekonomi perusahaan, telah menciptakan kemaslahatan yang merata bagi semua pihak, atau justru menimbulkan kerusakan (mafsadah) bagi kaum pekerja yang berada di posisi rentan? Dengan demikian, penelitian ini akan mengkaji seberapa jauh aturan hukum positif tersebut telah selaras dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan umum yang diusung oleh hukum Islam.Normatiftidak ada plagiasiokokOKDiterimaLengkap
41220203110007Marsanda Putri ZerlinaAnalisis Empiris Tentang Sengketa Tanah dan Implikasinya Terhadap Kepastian Hukum Dalam Perspektif Siyasah Dusturiyah ( Studi Kasus Dusun Rungkut, Desa Randuharjo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto )Ketidaksesuaian data sertifikat tanah dengan realitas lapangan menimbulkan ketidakpastian hukum dan sengketa kepemilikan yang mencerminkan lemahnya pelaksanaan prinsip keadilan, kejelasan aturan, dan tanggung jawab pemerintah sebagaimana diatur dalam Siyasah Dusturiyah.Empiristidak ada plagiasiokokRedaksi judul diperbaikiDiterimaLengkap
42210203110037Aji Sasono PamungkasPEMENUHAN HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA DALAM PUTUSAN MK NO. 3/PUU-XXII/2024: ANALISIS MAQASHID AL-SYARIAH TERHADAP KEADILAN SUBSTANTIFIsu hukum yang diangkat dalam penelitian ini berawal dari adanya perbedaan pendekatan Mahkamah Konstitusi dalam menafsirkan dan menegakkan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (ekosob) dibandingkan dengan hak-hak sipil dan politik. Perbedaan tersebut tampak dalam berbagai putusan MK, salah satunya Putusan Nomor 3/PUU-XXII/2024, yang menegaskan kewajiban negara dalam menjamin pendidikan dasar gratis namun tetap menempatkan hak ekosob sebagai hak yang pemenuhannya bersifat bertahap (progressive realization). Kondisi ini menimbulkan persoalan mendasar mengenai sejauh mana Mahkamah Konstitusi telah menegakkan prinsip keadilan substantif dan menjamin kesetaraan pemenuhan hak-hak asasi warga negara tanpa membedakan antara hak ekosob dan hak sipil-politik. Perbedaan pendekatan ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana Mahkamah Konstitusi telah mencerminkan prinsip keadilan substantif dalam putusannya serta apakah pertimbangan hukum yang diambil telah sejalan dengan tujuan hukum yang berorientasi pada kemaslahatan sebagaimana tercermin dalam perspektif maqashid al-syariah.Normatiftelah ada penelitian sejenis http://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/AlZayn/article/view/1548tolakdtolakDitolakDitolakLengkap
43220203110057ATHIYYAH SALSABILAKAJIAN KONSTITUSIONAL PERLINDUNGAN HAK-HAK OTAK (NEURORIGHTS) DALAM SISTEM HUKUM TATA NEGARA DI INDONESIAPesatnya perkembangan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan fundamental pada hampir setiap aspek kehidupan manusia dengan melahirkan paradigma baru dalam interaksi antara kesadaran biologis dan kecerdasan artifisial. Puncak dari inovasi ini terletak pada pengembangan Neuro-technology, khususnya Brain-Computer Interface (BCI) yang memungkinkan perekaman, transfer data bahkan intervensi langsung terhadap aktivitas otak manusia. BCI kini telah bergeser dari ranah laboratorium dan fiksi ilmiah menuju realitas pasar yang tak terhindarkan. Hal ini dibuktikan dengan investasi kolosal dari korporasi teknologi global seperti Neuralink, perusahaan rintisan Elon Musk di bidang antarmuka otak-komputer yang berfokus pada pengembangan implan otak “Link” dengan kemampuan menerjemahkan sinyal saraf menjadi perintah digital yang berhasil mengumpulkan 650 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp10,5 triliun dalam pendanaan Seri E yang diumumkan pada Senin (2/6/2025). Dana tersebut akan memperkuat langkah perusahaan dalam mengembangkan implan otak dan memperluas uji klinis global. Dengan uji klinis aktif di tiga negara di Barrow Neurological Institute, The Miami Project to Cure Paralysis, dan Cleveland Clinic Abu Dhabi, dengan fokus pada pasien cedera tulang belakang servikal atau ALS, perusahaan kini memasuki fase penting untuk membuktikan efektivitas implan otaknya.Normatiftidak ada plagiasiokokIsu hukum perlu dipertajamDiterimaLengkap
44220203110057ATHIYYAH SALSABILALEGALITAS PERMINTAAN AKSES DATA SENSITIF PSE: PENGUJIAN NORMATIF KEWENANGAN PENGAWASAN KOMDIGI (PASAL 21 PERMEN KOMINFO 5/2020) TERHADAP PRINSIP UU PERLINDUNGAN DATA PRIBADIKonflik hukum yang menjadi fokus penelitian ini memuncak ketika Komdigi mengambil tindakan drastis terhadap TikTok. Pemicunya adalah klaim Komdigi bahwa TikTok meskipun telah memiliki Tanda Daftar PSE (TDPSE), telah melakukan pelanggaran kewajiban berat yakni terbukti tidak patuh dan menolak untuk menyerahkan data yang diminta secara resmi oleh pemerintah. Permintaan data ini memiliki sensitivitas tinggi karena berkaitan dengan informasi data monetisasi (termasuk jumlah nilai pemberian gift), trafik live streaming, dan data aktivitas pengguna yang diduga terkait langsung dengan fasilitas praktik judol dan konten yang melanggar ketertiban umum. Akibat penolakan tersebut, Komdigi menjatuhkan sanksi administratif tertinggi berupa Pembekuan Sementara TDPSE terhadap TikTok. Tindakan sanksi ini telah menggeser inti permasalahan yaitu dari penindakan terhadap konten ilegal, menjadi perdebatan fundamental mengenai batas kewenangan eksekutif dalam mengakses data privat yang dikelola oleh entitas swasta. Sanksi pembekuan izin ini merupakan tindakan hukum administrasi negara yang harus diuji legalitas dan proporsionalitasnya secara cermat, khususnya ketika penjatuhan sanksi didasarkan pada penolakan akses data yang mungkin terikat oleh norma perlindungan yang lebih tinggi.Normatiftidak ada plagiasiokokOKEDiterimaLengkap

Keterangan

  1. Bagi mahasiswa yang mengajukan lebih dari 1 judul dan diterima semuanya, segera konfirmasi ke admin prodi untuk menentukan 1 judul ,terakhir Rabu, 22 Oktober 2025 , agar cepat proses terselesainya SK Pembimbing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait